Tugas kelompok
Mata kuliah : Sistem Sonsori Persepsi
Nama dosen : Ns. Haikal Alpin S.kep, CWCCA
MAKALAH
SISTEM SONSORI PERSEPSI
( KATARAK )
DISUSUN
OLEH
KELOMPOK
I
|
1. Ahmad
Risal
|
6. Maaureen Batseba Philipus
|
|
2. Andi
Aswandi
|
7. Masrandi Ekram
|
|
3. Adris
Bari
|
8. Nuraini Burhan
|
|
4. Betjie
Sinamona
|
9. Samsu alang
|
|
5. Bonifilio
Mantur
|
10. Umiati S. Bakar
|
PROGRAN STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES GRAHA EDUKASI MAKASSAR
TAHUN AKADEMIK
2014/2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan inayah-Nya sehingga
makalah ini dapat terselesaikan guna memenuhi salah satu tugas kami sebagai mahasiswa S1 keperawatan, stikes
graha edukasi.
Adapun judul makalah
ini yaitu Sistem sensori persepsi “ Katarak ”.
Penulis menyadari atas kekurangan kemampuan penulis
dalam pembuatan makalah ini, sehingga akan menjadi suatu kehormatan besar bagi
penulis apabila mendapatkan kritikan dan saran yang membangun agar makalah ini
selanjutnya akan lebih baik dan sempurna serta komprehensif.
Pada kesempatan ini
kami, tak lupa penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya pula
kepada :
1. Ns.
Haikal Alpin S.kep, CWCCA. Selaku dosen pembimbing kami.
2. Semua
anggota kelompok 1 atas waktunya dalam pembuatan makalah ini.
Demikian akhir kata dari penulis, semoga makalah ini bermanfaat bagi semua
pihak dan pembelajaran budaya khususnya dalam segi teoritis sehingga dapat
membuka wawasan ilmu pengetahuan serta akan menghasilkan yang lebih baik di
masa yang akan datang.
DAFTAR
ISI
Sampul......................................................................................................................... i
Kata
pengantar............................................................................................................ ii
Daftar isi.................................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar
belakang................................................................................................ 1
1.2 Rumusan
masalah........................................................................................... 1
1.3 Tujuan............................................................................................................. 1
1.4 Manfaat........................................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi............................................................................................................. 3
2.2 Etiologi............................................................................................................. 7
2.3 Patofisiologi..................................................................................................... 7
2.4 Manifestasi
Klinik............................................................................................ 8
2.5 Penatalaksanaan............................................................................................... 9
2.6 Penyimpangan
KDM..................................................................................... 12
BAB III. ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian..................................................................................................... 13
3.2 Diagnosa
keperawatan.................................................................................. 14
3.3 Rencana
tindakan.......................................................................................... 15
3.4 Implamentasi................................................................................................. 18
3.5 Evaluasi......................................................................................................... 18
BAB IV. PENUTUP
4.1.Kesimpulan
................................................................................................... 19
4.2.Saran ............................................................................................................. 19
Daftar pustaka........................................................................................................ 20
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang
Kebutaan di Indonesia
merupakan bencana Nasional. Sebab kebutaan menyebabkan kualitas sumber daya
manusia rendah. Hal ini berdampak pada kehilangan produktifitas serta
membutuhkan biaya untuk rehabilitasi dan pendidikan orang buta. Berdasarkan
hasil survey nasional tahun 1993 – 1996, angka kebutaan di Indonesia mencapai
1,5 %. Angka ini menempatkan Indonesia pada urutan pertama dalam masalah
kebutaan di Asia dan nomor dua di dunia pada masa itu.
Salah satu penyebab
kebutaan adalah katarak. sekitar 1,5 % dari jumlah penduduk di Indonesia, 78 %
disebabkan oleh katarak. Pandangan mata yang kabur atau berkabut bagaikan
melihat melalui kaca mata berembun, ukuran lensa kacamata yang sering berubah,
penglihatan ganda ketika mengemudi di malam hari , merupakan gejala katarak.
Tetapi di siang hari penderita justru merasa silau karena cahaya yang
masuk ke mata terasa berlebih.
Begitu besarnya resiko
masyarakat Indonesia untuk menderita katarak memicu kita dalam
upaya pencegahan. Dengan memperhatikan gaya hidup, lingkungan yang sehat dan
menghindari pemakaian bahan-bahan kimia yang dapat merusak akan membuta kita
terhindar dari berbagai jenis penyakit dalam stadium yang lebih berat yang akan
menyulitkan upaya penyembuhan.
Sehingga kami sebagai
mahasiswa keperawatan memiliki solusi dalam mencegah dan menanggulangi masalah
katarak yakni dengan memberikan sebuah raangkuman makalah tentang katarak
sebagai bahan belajar dan pendidikan bagi mahasiswa keperawatan.
1.2
Rumusan
masalah
1.2.1
Bagaimanakah konsep medis pada
penderita katarak?
1.2.2
Bagaimanakah konsep proses
keperawatan pada penderita katarak?
1.3
Tujuan
1.3.1
Mengetahui definisi katarak
1.3.2
Mengetahui etiologi katarak
1.3.3
Mengetahui patofisiologi katarak
1.3.4
Mengetahui manifestasi klinis
katarak
1.3.5
Mengetahui pemeriksaan dignostik
pada katarak
1.3.6
Mengetahui asuhan keperawatan
pasien dengan katarak
1.4
Manfaat
1.4.1
Mahasiswa mampu dan mengerti tentang katarak
1.4.2
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan
pada pasien katarak
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Definisi
Katarak
merupakan kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, sehingga menyebabkan penurunan/gangguan
penglihatan (Admin,2009). Katarak menyebabkan penglihatan menjadi
berkabut/buram. Katarak merupakan keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh
akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa, sehingga pandangan
seperti tertutup air terjun atau kabut merupakan penurunan progresif kejernihan
lensa, sehingga ketajaman penglihatan berkurang (Corwin, 2000). Definisi lain
katarak adalah suatu keadaan patologik lensa di mana lensa rnenjadi keruh
akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini
terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada
berbagai usia tertentu (Iwan,2009)
Lensa mata
merupakan bagian jernih dari mata yang berfungsi untuk menangkap cahaya dan
gambar. Retina merupakan jaringan yang berada di bagian belakang mata, bersifat
sensitive terhadap cahaya. Pada keadaan normal, cahaya atau gambar yang masuk
akan diterima oleh lensa mata, kemudian akan diteruskan ke retina, selanjutnya
rangsangan cahaya atau gambar tadi akan diubah menjadi sinyal / impuls
yang akan diteruskan ke otak melalui saraf penglihatan dan akhirnya akan
diterjemahkan sehingga dapat dipahami. Tetapi bila jalan cahaya tertutup oleh
keadaan lensa yang katarak maka impuls tidak akan dapat diterima oleh otak dan
tidak akan bisa diterjemahkan menjado suatu gambaran penglihatan yang baik.
Katarak
biasanya terjadi bertahap selama bertahun-tahun dan ketika katarak sudah sangat
memburuk lensa yang lebih kuat pun tidak akan mampu memperbaiki penglihatan.
Orang dengan katarak secara khas selalu mencari cara untuk menghindari silau
yang berasal dari cahaya yang salah arah. Misalnya dengan mengenakan topi
berkelapak lebar atau kaca mata hitam dan menurunkan pelindung cahaya saat
mengendarai mobil pada siang hari.
Katarak
kongenital sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang
menderita penyakit rubela, galaktosemia, homosisteinuri, toksoplasmosis,
inklusi sitomegalik,dan histoplasmosis, penyakit lain yang menyertai katarak
kongenital biasanya berupa penyakit-penyakt herediter seperti mikroftlmus,
aniridia, koloboma iris, keratokonus, iris heterokromia, lensa ektopik,
displasia retina, dan megalo kornea.
Untuk mengetahui
penyebab katarak kongenital diperlukan pemeriksaan riwayat prenatal infeksi ibu
seperti rubela pada kehamilan trimester pertama dan pemakainan obat selama
kehamilan. Kadang-kadang terdapat riwayat kejang, tetani, ikterus, atau
hepatosplenomegali pada ibu hamil. Bila katarak disertai uji reduksi pada urine
yang positif, mungkin katarak ini terjadi akibat galaktosemia. Sering katarak
kongenital ditemukan pada bayi prematur dan gangguan sistem saraf seperti
retardasi mental.
Pemeriksaan
darah pada katarak kongenital perlu dilakukan karena ada hubungan katarak
kongenital dengan diabetes melitus, fosfor, dan kalsium. Hampir 50 % katarak
kongenital adalah sporadik dan tidak diketahui penyebabnya. Pada pupil bayi
yang menderita katarak kongenital akan terlihat bercak putih atau suatu
leukokoria.
1.
Katarak Juvenil, Katarak yang lembek dan terdapat pada
orang muda, yang mulai terbentuknya pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih
dari 3 bulan. Katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital.
Katarak juvenil biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun metabolik
dan penyakit lainnya
2.
Katarak Senil, setelah usia 50 tahun akibat penuaan.
Katarak senile biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun, Kekeruhan
lensa dengan nucleus yang mengeras akibat usia lanjut yang biasanya mulai
terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. (Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed.
3)
Katarak Senil sendiri terdiri dari 4 stadium, yaitu:
1.
Stadium awal (insipien). Pada stadium awal (katarak
insipien) kekeruhan lensa mata masih sangat minimal, bahkan tidak terlihat
tanpa menggunakan alat periksa. Pada saat ini seringkali penderitanya tidak
merasakan keluhan atau gangguan pada penglihatannya, sehingga cenderung
diabaikan. Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju korteks
anterior dan posterior ( katarak kortikal ). Vakuol mulai terlihat di dalam
korteks. Katarak sub kapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anterior
subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan dan korteks
berisi jaringan degenerative(benda morgagni)pada katarak insipient kekeruhan
ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada
semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama.
(Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
(Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
2.
Stadium imatur. Pada stadium yang lebih lanjut,
terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi tidak atau belum mengenai seluruh
lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jernih pada lensa. Pada
stadium ini terjadi hidrasi kortek yang mengakibatkan lensa menjadi bertambah
cembung. Pencembungan lensa akan mmberikan perubahan indeks refraksi dimana
mata akan menjadi mioptik. Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris
kedepan sehingga bilik mata depan akan lebih sempit.( (Ilyas, Sidarta : Katarak
Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
3.
Stadium matur. Bila proses degenerasi berjalan terus
maka akan terjadi pengeluaran air bersama-sama hasil desintegrasi melalui
kapsul. Didalam stadium ini lensa akan berukuran normal. Iris tidak terdorong
ke depan dan bilik mata depan akan mempunyai kedalaman normal kembali. Kadang
pada stadium ini terlihat lensa berwarna sangat putih akibatperkapuran
menyeluruh karena deposit kalsium ( Ca ). Bila dilakukan uji bayangan iris akan
terlihat negatif.( Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
4.
Stadium hipermatur. Katarak yang terjadi akibatkorteks
yang mencair sehingga masa lensa ini dapat keluar melalui kapsul. Akibat
pencairan korteks ini maka nukleus "tenggelam" kearah bawah (jam
6)(katarak morgagni). Lensa akan mengeriput. Akibat masa lensa yang keluar
kedalam bilik mata depan maka dapat timbul penyulit berupa uveitis fakotoksik
atau galukoma fakolitik (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
5.
Katarak Intumesen. Kekeruhan lensa disertai
pembengkakan lensa akibat lensa degenerative yang menyerap air. Masuknya air ke
dalam celah lensa disertai pembengkakan lensa menjadi bengkak dan besar yang
akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan
keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penyulit glaucoma.
Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan
mengakibatkan miopi lentikularis. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi
korteks hingga akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang meberikan
miopisasi. Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai
peregangan jarak lamel serat lensa. (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh,
ed. 2,)
6.
Katarak Brunesen. Katarak yang berwarna coklat sampai
hitam (katarak nigra) terutama pada lensa, juga dapat terjadi pada katarak
pasien diabetes militus dan miopia tinggi. Sering tajam penglihatan lebih baik
dari dugaan sebelumnya dan biasanya ini terdapat pada orang berusia lebih dari
65 tahun yang belum memperlihatkan adanya katarak kortikal posterior. (Ilyas,
Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)
Tabel 1.1 Perbedaan karakteristik
Katarak (Ilyas, 2001)
|
|
Insipien
|
Imatur
|
Matur
|
Hipermatur
|
|
Kekeruhan
|
Ringan
|
Sebagian
|
Seluruh
|
Masif
|
|
Cairan Lensa
|
Normal
|
Bertambah
|
Normal
|
Berkurang
|
|
Iris
|
Normal
|
Terdorong
|
Normal
|
Tremulans
|
|
Bilik mata depan
|
Normal
|
Dangkal
|
Normal
|
Dalam
|
|
Sudut bilik mata
|
Normal
|
Sempit
|
Normal
|
Terbuka
|
|
Shadow test
|
(-)
|
(+)
|
(-)
|
+/-
|
|
Visus
|
(+)
|
<
|
<<
|
<<<
|
|
Penyulit
|
(-)
|
Glaukoma
|
(-)
|
Uveitis+glaukoma
|
Klasifikasi katarak berdasarkan lokasi terjadinya:
1.)
Katarak Inti ( Nuclear )
Merupakan yang paling banyak
terjadi. Lokasinya terletak pada nukleus atau bagian tengah dari lensa.
Biasanya karena proses penuaan.
2.)
Katarak Kortikal
Katarak
kortikal ini biasanya terjadi pada korteks. Mulai dengan kekeruhan putih mulai
dari tepi lensa dan berjalan ketengah sehingga mengganggu penglihatan. Banyak
pada penderita DM
3.)
Katarak Subkapsular.
Mulai dengan kekeruhan kecil dibawah kapsul lensa,
tepat pada lajur jalan sinar masuk. DM, renitis pigmentosa dan pemakaian
kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama dapat mencetuskan kelainan ini.
Biasanya dapat terlihat pada kedua mata.
2.2
Etiologi
Berbagai macam hal yang dapat mencetuskan katarak
antara lain (Corwin,2000):
1.
Usia lanjut dan proses penuaan
2.
Congenital atau bisa diturunkan.
3.
Pembentukan katarak dipercepat oleh faktor lingkungan,
seperti merokok atau bahan beracun lainnya.
4.
Katarak bisa disebabkan oleh cedera mata, penyakit
metabolik (misalnya diabetes) dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).
Katarak juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor
risiko lain, seperti:
1.
Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat
trauma/cedera pada mata.
2.
Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain,
seperti: penyakit/gangguan metabolisme, proses peradangan pada mata, atau
diabetes melitus.
3.
Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.
4.
Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan
jangka panjang, seperti kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.
5.
Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik
(Admin,2009).
2.3
Patofisiolgi
Metabolisme
Lensa Normal
Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan
kation (sodium dan kalium). Kedua kation berasal dari humour aqueous dan
vitreous. Kadar kalium di bagian anterior lensa lebih tinggi di bandingkan
posterior. Dan kadar natrium di bagian posterior lebih besar. Ion K bergerak ke
bagian posterior dan keluar ke aqueous humour, dari luar Ion Na masuk secara
difusi dan bergerak ke bagian anterior untuk menggantikan ion K dan keluar
melalui pompa aktif Na-K ATPase, sedangkan kadar kalsium tetap dipertahankan di
dalam oleh Ca-ATPase Metabolisme lensa melalui glikolsis anaerob (95%) dan
HMP-shunt (5%). Jalur HMP shunt menghasilkan NADPH untuk biosintesis asam lemak
dan ribose, juga untuk aktivitas glutation reduktase dan aldose reduktase.
Aldose reduktse adalah enzim yang merubah glukosa menjadi sorbitol, dan
sorbitol dirubah menjadi fructose oleh enzim sorbitol dehidrogenase.
Lensa mengandung 65% air, 35% protein dan sisanya adalah
mineral. Dengan bertambahnya usia, ukuran dan densitasnya bertambah. Penambahan
densitas ini akibat kompresi sentral pada kompresi sentral yang menua. Serat
lensa yang baru dihasilkan di korteks, serat yang tua ditekan ke arah sentral.
Kekeruhan dapat terjadi pada beberapa bagian lensa.
Kekeruhan sel selaput lensa yang terlalu lama menyebabkan
kehilangan kejernihan secara progresif, yang dapat menimbulkan nyeri hebat dan
sering terjadi pada kedua mata.
2.4
Manifestasi Klinis
Gejala subjektif dari pasien dengan katarak antara
lain:
1)
Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman
penglihatan dan silau serta gangguan fungsional yang diakibatkan oleh
kehilangan penglihatan tadi.
2)
menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat
di malam hari
Gejala objektif biasanya meliputi:
1)
Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil
sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi
opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi
bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau
redup.
2)
Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau
putih. Pengelihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan
bertambah putih.
3)
Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan
tampak benar-benar putih ,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif.
Gejala umum gangguan katarak meliputi:
1)
Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut
menghalangi objek.
2)
Gangguan penglihatan bisa berupa:
- Peka terhadap sinar atau cahaya.
- Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).
- Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
- Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
3) Kesulitan
melihat pada malam hari
4) Melihat
lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mata
5) Penurunan
ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari )
Gejala lainya adalah :
1)
Sering berganti kaca mata
2)
Penglihatan sering pada salah satu mata.
3) Kadang
katarak menyebabkan pembengkakan lensa dan peningkatan tekanan di dalam mata (
glukoma ) yang bisa menimbulkan rasa nyeri.
2.5
Penatalaksanaan
Gejala-gejala yang timbul pada
katarak yang masih ringan dapat dibantu dengan menggunakan kacamata,
lensa pembesar, cahaya yang lebih terang, atau kacamata yang dapat meredamkan
cahaya. Pada tahap ini tidak diperlukan tindakan operasi.
Tindakan
operasi katarak merupakan cara yang efektif untuk memperbaiki lensa mata,
tetapi tidak semua kasus katarak memerlukan tindakan operasi. Operasi katarak
perlu dilakukan jika kekeruhan lensa menyebabkan penurunan tajam pengelihatan
sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari. Operasi katarak
dapat dipertimbangkan untuk dilakukan jika katarak terjadi berbarengan dengan
penyakit mata lainnya, seperti uveitis yakni adalah peradangan pada uvea. Uvea
(disebut juga saluran uvea) terdiri dari 3 struktur:
1.
Iris : cincin berwarna yang melingkari pupil yang
berwarna hitam
2.
Badan silier : otot-otot yang membuat lensa menjadi
lebih tebal sehingga mata bisa fokus pada objek dekat dan lensa menjadi lebih
tipis sehingga mata bisa fokus pada objek jauh
3.
Koroid : lapisan mata bagian dalam yang membentang
dari ujung otot silier ke saraf optikus di bagian belakang mata.
Sebagian atau seluruh uvea bisa
mengalami peradangan. Peradangan yang terbatas pada iris disebut iritis, jika
terbatas pada koroid disebut koroiditis.
Juga operasi katarak akan dilakukan
bila berbarengan dengan glaukoma, dan retinopati diabetikum. Selain itu jika
hasil yang didapat setelah operasi jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan
risiko operasi yang mungkin terjadi. Pembedahan lensa dengan katarak dilakukan
bila mengganggu kehidupan social atau atas indikasi medis lainnya.( Ilyas,
Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)
Indikasi dilakukannya operasi katarak :
1.
Indikasi sosial: jika pasien mengeluh adanya gangguan
penglihatan dalam melakukan rutinitas pekerjaan
2.
Indikasi medis: bila ada komplikasi seperti glaucoma
3.
Indikasi optik: jika dari hasil pemeriksaan visus
dengan hitung jari dari jarak 3 m didapatkan hasil visus 3/60
Ada beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan,
yaitu:
1.
ICCE ( Intra Capsular Cataract Extraction)
yaitu dengan
mengangkat semua lensa termasuk kapsulnya. Sampai akhir tahun 1960 hanya itulah
teknik operasi yg tersedia.
2. ECCE (Ekstra
Capsular Cataract Extraction) terdiri dari 2 macam yakni
1.
Standar ECCE atau planned ECCE dilakukan dengan
mengeluarkan lensa secara manual setelah membuka kapsul lensa. Tentu saja
dibutuhkan sayatan yang lebar sehingga penyembuhan lebih lama.
2.
Fekoemulsifikasi (Phaco Emulsification). Bentuk ECCE
yang terbaru dimana menggunakan getaran ultrasonic untuk menghancurkan nucleus
sehingga material nucleus dan kortek dapat diaspirasi melalui insisi ± 3 mm.
Operasi katarak ini dijalankan dengan cukup dengan bius lokal atau menggunakan
tetes mata anti nyeri pada kornea (selaput bening mata), dan bahkan tanpa
menjalani rawat inap. Sayatan sangat minimal, sekitar 2,7 mm. Lensa mata
yang keruh dihancurkan (Emulsifikasi) kemudian disedot (fakum) dan diganti
dengan lensa buatan yang telah diukur kekuatan lensanya dan ditanam secara
permanen. Teknik bedah katarak dengan sayatan kecil ini hanya memerlukan waktu
10 menit disertai waktu pemulihan yang lebih cepat.
Pascaoperasi pasien diberikan tetes
mata steroid dan antibiotik jangka pendek. Kacamata baru dapat diresepkan
setelah beberapa minggu, ketika bekas insisi telah sembuh. Rehabilitasi visual
dan peresepan kacamata baru dapat dilakukan lebih cepat dengan metode
fakoemulsifikasi. Karena pasien tidak dapat berakomodasi maka pasien akan
membutuhkan kacamata untuk pekerjaan jarak dekat meski tidak dibutuhkan
kacamata untuk jarak jauh. Saat ini digunakan lensa intraokular multifokal.
Lensa intraokular yang dapat berakomodasi sedang dalam tahap pengembangan
Apabila tidak terjadi gangguan pada
kornea, retina, saraf mata atau masalah mata lainnya, tingkat keberhasilan dari
operasi katarak cukup tinggi, yaitu mencapai 95%, dan kasus komplikasi saat
maupun pasca operasi juga sangat jarang terjadi. Kapsul/selaput dimana lensa
intra okular terpasang pada mata orang yang pernah menjalani operasi katarak
dapat menjadi keruh. Untuk itu perlu terapi laser untuk membuka kapsul yang
keruh tersebut agar penglihatan dapat kembali menjadi jelas.
2.6
Penyimpangan KDM
(
Etiologi )
|
|
|
BAB
III
ASUHAN
KEPERAWATAN
3.1
Pengkajian
1.
Identitas / Data demografi
Berisi nama, usia, jenis kelamin,
pekerjaan yang sering terpapar sinar matahari secara langsung, tempat tinggal
sebagai gambaran kondisi lingkungan dan keluarga, dan keterangan lain
mengenai identitas pasien.
2. Riwayat Pola
Persepsi Kesehatan dan Manajemen Kesehatan
Klien mengalami bahwa ketajaman
penglihatannya menurun, silau dan sering menabrak perabotan dan benda di
sekitar rumah pada malam hari. Selain itu klien juga merasa bahwa pandangannya
kabur dan tidak melihat perbedaan tinggi lantai.
3. Pola Nutrisi
Metabolik
Kaji bagaimana pola nutrisi klien,
makanan dan cairan apa yang disukai klien ataupun pantangan klien. Apakah klien
merasa mual atau muntah. Dan bagaimana klien dengan pola nutrisinya sewaktu
sebelum sakit dan sekarang.
4. Pola
Eliminasi-Defekasi
Kaji bagaimana pola eliminasi dan
defekasi klien. Tanyakan bagaimana warna, jumlah, bau, konsistensi eliminasi
dan defekasi klien. Apakah mengalami perubahan karena penyakit yanh diderita
klien atau tidak. Apakah klien mengalami diare atau wasir.
5. Pola
Aktivitas dan Latihan
Klien mengatakan bahwa ketajaman penglihatannya
menurun, silau dan sering menabrak perabotan dan benda di sekitar rumah pada
malam hari. Selain itu klien juga merasa bahwa pandangannya kabur dan tidak
melihat perbedaan tinggi lantai.
Kaji bagaimana pola aktivitas dan latihan klien,
apakah mengalami gangguan atau tidak. Kaji apakah klien dapat melakukan
aktivitasnya sendiri atau dibantu keluarga.
6. Pola Tidur
dan Istirahat
Kaji bagaimana pola istirahat dan
tidur klien selama sakit dan bandingkan dengan pola tidur klien sebelum sakit,
apakah terjadi perubahan atau tidak. Kaji kepuasan klien terhadap istirahat dan
tidur klien tersebut.
7. Pola
Kognitif-perseptual
Klien mengalami penurunan ketajaman
penglihatan, klien sering merasa silau dalam melihat sesuatu hal dan
mengakibatkan klien sering menabrak perabotan dan benda disekitar rumah pada
malam hari. Klien juga mengatakan bahwa penglihatannya kabur dan susah melihat
perbedaan tinggi lantai.
8. Pola
Persepsi Konsep Diri
Klien mengalami kecemasan setelah
berkonsultasi dengan dokter. Klien mengatakan bahwa dia mendengar bahwa proses
pengobatan yang disarankan dokter terjadi juga pada tetangga klien dan hasilnya
matanya semakin mengalami keparahan.
9. Pola Peran
dan Hubungan
Kaji bagaimana peran klien dalam
keluarga dan lingkungannya. Dan kaji bagaimana hubungan klien dengan anggota
keluarga dan lingkungan disekitar temapat tinggal klien tersebut.
Pola Seksualitas dan Reproduksi
Biasanya terjadi penurunan seksualitas karena kondisi
klien yang lemah dan nyeri yang dirasakan.
10. Pola Koping
dan Toleransi Stress
Kaji bagaimana klien menghadapi
stres yang dialaminya dan siapa saja yang biasa membantu klien dalam menghadapi
stres yang klien rasakan.
11. Pola Nilai
dan Kepercayaan
Biasanya aktivitas ibadah klien
terganggu karena keterbatasan aktivtas.
3.2
Diagnosa
keperawatan
1. Gangguan
rasa nyaman ( 00214 ) berhubungan dengan peningkatan tekanan intra okuler ( TIO )
2. Resiko cidera ( 00053 ) berhubungan dengan peningkatan TIO, perdarahan
intraokuler.
3. Ansietas
( 000145 ) berhubungan dengan perasaan tidak nyaman atau rasa khawatir respon
autonom.
3.3
Rencana
tindakan
|
No
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Tujuan
/Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1.
(598)
|
Gangguan rasa nyaman
( 00214 ) berhubungan dengan peningkatan tekanan intra
okuler ( TIO )
Definisi : Merasa kurang senang, lega, dan
sempurna dalam segala dimensi fisik, fisikospiritual, lingkunagan dan sosial.
Ditandai dengan batasan karakteristik:
DS :
o Klien
mengatakan susah tidur pada siang an
malam hari
o Klien
merasa kurang puas dengan keadaannya saat ini
o Adanya
rasa nyeri
DO :
o Klien
nampak gelisah
o Klien
nampak meringis
|
Setelah dilakukan asuhan keperawatan
selama 3 x 24 jam, diharapkan rasa nyeri berkurang, dengan kriteria hasil :
o Klien terlihat rileks
o Klien mengatakan nyeri
berkurang/hilan
o Skala nyeri 0-1
|
1. Kaji derajat nyeri setiap hari.
2. Anjurkan klien untuk tidak melakukan gerakan
tiba-tiba yang dapat memprovokasi nyeri.
3. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.
4. Berikan pendidikan kesehatan mengenai
hal-hal yang dapat mengurangi bertambahnya nyeri akibat meningkatnya TIO seperti
tidak membungkuk terlalu dalam
(anjurkan pasien melakukan ibadah salat dalam posisi duduk) dan tidur
berbaring ke arah mata yang sehat.
5. Lakukan tindakan kolaboratif untuk pemberian
analgesic topical atau sistemik.
|
1.
Untuk mengetahui skala nyeri pada klien.
2.
Agar nyeri tidak mudah timbul.
3.
Untuk mengurangi rasa nyeri.
4.
Agar klien dapat mengontrol dan mengetahui hal-hal
yang dapat menimbilkan nyeri.
5.
Agar rasa nyeri berkurang, dan masalah klien tdapat
teratasi.
|
|
2.
(547)
|
Resiko cidera ( 00053 ) berhubungan dengan peningkatan TIO,
perdarahan intraokuler.
Definisi
:
Beresiko
mengalami cedera sebagai akibat kondisi lingkungan yang berinteraksi dengan sumber adaktif dan
sumber definsit individu.
Ditandai
dengan batasan karakteristik:
DS :
DO :
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam , diharapkan tidak terjadi
cedera ditandai dengan kriteria hasil :
o Klien dapat menyebutkan faktor yang
menyebabkan cedera.
o Klien tidak melakukan aktivitas yang
meningkatkan resiko cedera.
|
1. Diskusikan
tentang rasa sakit, pembatasan
aktifitas dan pembalutan mata.
2. Tempatkan klien pada tempat tidur yang
rendah dan ajurkan untuk membatasi pergerakan mendadak atau tiba-tiba serta
menggerakan kepala berlebih.
3. Bantu aktifitas selama fase istirahat.
4. Ajarkan klien untuk menghindari tindakan
yang dapat menyebabkan cedera.
5. Berikan pendidikan kesehatan mengenai
hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan pasca pembedahan.
6. Amati kondisi mata : luka menonjol, bilik
mata depan menonjol, nyeri mendadak setiap 6 jam pada awal operasi atau
seperlunya.
|
1. Batasi
aktifitas klien agar resiko cedera dapat berkurang.
2. Agar
resiko berkurang.
3. Agar
klien dapat beraktifitas/istirahat tanpa takit terjadinya cedera
4. Agar
klien tidak beresiko cedera
5. Agar
klien dapat mengetahui hal-hal yang dapat memicu terjadinya cedera.
6. Agar
kondisi klien dapat terkontrol.
|
|
3.
(445)
|
Ansietas
( 000145 ) berhubungan dengan perasaan tidak nyaman atau rasa khawatir
terhadap penyakit
Definisi
:
Perasaan
tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respon autonom ( Sumber
tidak kali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu ): perasaan
takut yang disebabkan oleh anstipasi terhadap bahaya.hal ini merupakan
isyarat kewaspadaan yang memperingatkan individu akan segala bahaya dan
memampukan individu atau bertindak
menghadapi ancaman
Ditandai
dengan batasan karakteristik:
DS
:
o Klien
mengatakan cemas akan penyakit yang
diderita
o Klien
mengatakan merasa takut
o Klin
mengatakan khawatir karena perubahan dalam peristiwa hidup
DO
:
o Klien
nampak gelisah
o Klien
nampak stres
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selam 3x24 jam , diharapkan kecemasan klien
berkurang . dengan kriteria hasil :
o Klien
nampak tenang.
o Klien
tidak merasa gelisah.
|
1. Gunakan
pendekatan yang menenangkan
2. Nyatakan
dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien.
3. Temani pasien
untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut.
4. Berikan
informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosi
5. Instruksikan
pasien menggunakan teknik relaksasi
6. Barikan obat
untuk mengurangi kecemasan.
oAntihistamin:
Diphenhydramine
|
1. Agar
klien merasa tenang.
2. Untuk
mengetahui harapan klien kedepannya.
3. Agar
rasa cemas/takut klien dapat berkurang.
4. Agar
klien dapat mengetahui tindakan diagnosa yang akan dilakukan.
5. Untuk
mengurangi kecemasan dan memberikan ras nyaman.
6. Agar
klien dapat merasa lebih tenang
|
3.4
Implamentasi
Implementasi
disesuaikan dengan intervensi pada rencana intervensi
3.5
Evaluasi
3.5.1
Klien merasa nyaman
3.5.2
Resiko
cidera berkurang/ dapat diatasi
3.5.3
Ansietas klien dapat
terkontrol/berkurang
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Katarak merupakan kekeruhan yang
terjadi pada lensa mata, sehingga menyebabkan penurunan/gangguan
penglihatan (Admin,2009).
Katarak menyebabkan penglihatan
menjadi berkabut/buram. Katarak merupakan keadaan patologik lensa dimana
lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa,
sehingga pandangan seperti tertutup air terjun atau kabut merupakan penurunan
progresif kejernihan lensa, sehingga ketajaman penglihatan berkurang (Corwin,
2000).
Definisi lain katarak adalah suatu
keadaan patologik lensa di mana lensa rnenjadi keruh akibat hidrasi cairan
lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan
metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu
(Iwan,2009)
4.2
Saran
Sebagai
perawat diharapkan mampu untuk melakukan
asuhan keperawatan terhadap penderita Katarak . Perawat juga harus mampu
berperan sebagai pendidik. Dalam hal ini melakukan penyuluhan mengenai
pentingnya hal-hal yang dapat menyebabkan
terjadinya penyakit katarak dan memperberat penyakit bagi yang sudah menderita,
serta hal-hal yang harus dihindarkan dan bagaimana cara pengobatan dengan baik
pada penderita.
DAFTAR
PUSTAKA
NANDA 2012-2014. Diagnosis keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Judithy M. Wilkinson. Nancy R. Ahern
(2011). Buku saku keperawatan. Diagnosa
NANDA, Intervensi NIC. Kriteria hasil NOC. Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Doenges
marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta