Sabtu, 21 Maret 2015

Askep Katarak



Tugas kelompok
Mata kuliah              : Sistem Sonsori Persepsi
Nama dosen             : Ns. Haikal Alpin S.kep, CWCCA




MAKALAH
SISTEM SONSORI PERSEPSI

( KATARAK )

DISUSUN OLEH
KELOMPOK I
1.      Ahmad Risal
6.    Maaureen Batseba Philipus
2.      Andi Aswandi
7.    Masrandi Ekram
3.      Adris Bari
8.    Nuraini Burhan
4.      Betjie Sinamona
9.    Samsu alang
5.      Bonifilio Mantur
10.  Umiati S. Bakar

PROGRAN STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES GRAHA EDUKASI MAKASSAR
TAHUN AKADEMIK 2014/2015


KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan inayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan guna memenuhi salah satu tugas kami sebagai mahasiswa S1 keperawatan, stikes graha edukasi.
Adapun judul makalah ini yaitu Sistem sensori persepsi “ Katarak ”. Penulis menyadari atas kekurangan kemampuan penulis dalam pembuatan makalah ini, sehingga akan menjadi suatu kehormatan besar bagi penulis apabila mendapatkan kritikan dan saran yang membangun agar makalah ini selanjutnya akan lebih baik dan sempurna serta komprehensif.
Pada kesempatan ini kami, tak lupa penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya pula kepada :
1.    Ns. Haikal Alpin S.kep, CWCCA. Selaku dosen pembimbing kami.
2.    Semua anggota kelompok 1 atas waktunya dalam pembuatan makalah ini.
Demikian akhir kata dari penulis, semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak dan pembelajaran budaya khususnya dalam segi teoritis sehingga dapat membuka wawasan ilmu pengetahuan serta akan menghasilkan yang lebih baik di masa yang akan datang.





DAFTAR ISI
Sampul......................................................................................................................... i
Kata pengantar............................................................................................................ ii
Daftar isi.................................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang................................................................................................ 1
1.2  Rumusan masalah........................................................................................... 1
1.3  Tujuan............................................................................................................. 1
1.4  Manfaat........................................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Definisi............................................................................................................. 3
2.2  Etiologi............................................................................................................. 7
2.3  Patofisiologi..................................................................................................... 7
2.4  Manifestasi Klinik............................................................................................ 8
2.5  Penatalaksanaan............................................................................................... 9
2.6  Penyimpangan KDM..................................................................................... 12
BAB III. ASUHAN KEPERAWATAN
3.1  Pengkajian..................................................................................................... 13
3.2  Diagnosa keperawatan.................................................................................. 14
3.3  Rencana tindakan.......................................................................................... 15
3.4  Implamentasi................................................................................................. 18
3.5  Evaluasi......................................................................................................... 18
BAB IV. PENUTUP
4.1.Kesimpulan ................................................................................................... 19
4.2.Saran ............................................................................................................. 19
Daftar pustaka........................................................................................................ 20






BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar belakang
Kebutaan di Indonesia merupakan bencana Nasional. Sebab kebutaan menyebabkan kualitas sumber daya manusia rendah. Hal ini berdampak pada kehilangan produktifitas serta membutuhkan biaya untuk rehabilitasi dan pendidikan orang buta. Berdasarkan hasil survey nasional tahun 1993 – 1996, angka kebutaan di Indonesia mencapai 1,5 %. Angka ini menempatkan Indonesia pada urutan pertama dalam masalah kebutaan di Asia dan nomor dua di dunia pada masa itu.
Salah satu penyebab kebutaan adalah katarak. sekitar 1,5 % dari jumlah penduduk di Indonesia, 78 % disebabkan oleh katarak. Pandangan mata yang kabur atau berkabut bagaikan melihat melalui kaca mata berembun, ukuran lensa kacamata yang sering berubah, penglihatan ganda ketika mengemudi di malam hari , merupakan gejala katarak. Tetapi di siang hari penderita justru  merasa silau karena cahaya yang masuk ke mata terasa berlebih.
Begitu besarnya resiko masyarakat Indonesia  untuk menderita katarak memicu kita dalam  upaya pencegahan. Dengan memperhatikan gaya hidup, lingkungan yang sehat dan menghindari pemakaian bahan-bahan kimia yang dapat merusak akan membuta kita terhindar dari berbagai jenis penyakit dalam stadium yang lebih berat yang akan menyulitkan upaya penyembuhan.
Sehingga kami sebagai mahasiswa keperawatan memiliki solusi dalam mencegah dan menanggulangi masalah katarak yakni dengan memberikan sebuah raangkuman makalah tentang katarak sebagai bahan belajar dan pendidikan bagi mahasiswa keperawatan.  
1.2         Rumusan masalah
1.2.1        Bagaimanakah konsep medis pada penderita katarak?
1.2.2        Bagaimanakah konsep proses keperawatan pada penderita katarak?
1.3         Tujuan
1.3.1        Mengetahui definisi katarak
1.3.2        Mengetahui etiologi katarak
1.3.3        Mengetahui patofisiologi katarak
1.3.4        Mengetahui manifestasi klinis katarak
1.3.5        Mengetahui pemeriksaan dignostik pada katarak
1.3.6        Mengetahui asuhan keperawatan pasien dengan katarak
1.4         Manfaat
1.4.1        Mahasiswa mampu dan mengerti tentang katarak
1.4.2        Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada   pasien katarak


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1         Definisi
Katarak merupakan kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, sehingga menyebabkan penurunan/gangguan penglihatan (Admin,2009). Katarak menyebabkan penglihatan  menjadi berkabut/buram. Katarak merupakan keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa, sehingga pandangan seperti tertutup air terjun atau kabut merupakan penurunan progresif kejernihan lensa, sehingga ketajaman penglihatan berkurang (Corwin, 2000). Definisi lain katarak adalah suatu keadaan patologik lensa di mana lensa rnenjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu (Iwan,2009)
Lensa mata merupakan bagian jernih dari mata yang berfungsi untuk menangkap cahaya dan gambar. Retina merupakan jaringan yang berada di bagian belakang mata, bersifat sensitive terhadap cahaya. Pada keadaan normal, cahaya atau gambar yang masuk akan diterima oleh lensa mata, kemudian akan diteruskan ke retina, selanjutnya rangsangan cahaya atau gambar tadi akan diubah menjadi sinyal / impuls yang akan diteruskan ke otak melalui saraf penglihatan dan akhirnya akan diterjemahkan sehingga dapat dipahami. Tetapi bila jalan cahaya tertutup oleh keadaan lensa yang katarak maka impuls tidak akan dapat diterima oleh otak dan tidak akan bisa diterjemahkan menjado suatu gambaran penglihatan yang baik.
Katarak biasanya terjadi bertahap selama bertahun-tahun dan ketika katarak sudah sangat memburuk lensa yang lebih kuat pun tidak akan mampu memperbaiki penglihatan. Orang dengan katarak secara khas selalu mencari cara untuk menghindari silau yang berasal dari cahaya yang salah arah. Misalnya dengan mengenakan topi berkelapak lebar atau kaca mata hitam dan menurunkan pelindung cahaya saat mengendarai mobil pada siang hari.
Katarak kongenital sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita penyakit rubela, galaktosemia, homosisteinuri, toksoplasmosis, inklusi sitomegalik,dan histoplasmosis, penyakit lain yang menyertai katarak kongenital biasanya berupa penyakit-penyakt herediter seperti mikroftlmus, aniridia, koloboma iris, keratokonus, iris heterokromia, lensa ektopik, displasia retina, dan megalo kornea.
Untuk mengetahui penyebab katarak kongenital diperlukan pemeriksaan riwayat prenatal infeksi ibu seperti rubela pada kehamilan trimester pertama dan pemakainan obat selama kehamilan. Kadang-kadang terdapat riwayat kejang, tetani, ikterus, atau hepatosplenomegali pada ibu hamil. Bila katarak disertai uji reduksi pada urine yang positif, mungkin katarak ini terjadi akibat galaktosemia. Sering katarak kongenital ditemukan pada bayi prematur dan gangguan sistem saraf seperti retardasi mental.
Pemeriksaan darah pada katarak kongenital perlu dilakukan karena ada hubungan katarak kongenital dengan diabetes melitus, fosfor, dan kalsium. Hampir 50 % katarak kongenital adalah sporadik dan tidak diketahui penyebabnya. Pada pupil bayi yang menderita katarak kongenital akan terlihat bercak putih atau suatu leukokoria.
1.      Katarak Juvenil, Katarak yang lembek dan terdapat pada orang muda, yang mulai terbentuknya pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. Katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital. Katarak juvenil biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun metabolik dan penyakit lainnya
2.      Katarak Senil, setelah usia 50 tahun akibat penuaan. Katarak senile biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun, Kekeruhan lensa dengan nucleus yang mengeras akibat usia lanjut yang biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. (Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)
Katarak Senil sendiri terdiri dari 4 stadium, yaitu:
1.      Stadium awal (insipien). Pada stadium awal (katarak insipien) kekeruhan lensa mata masih sangat minimal, bahkan tidak terlihat tanpa menggunakan alat periksa. Pada saat ini seringkali penderitanya tidak merasakan keluhan atau gangguan pada penglihatannya, sehingga cenderung diabaikan. Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior ( katarak kortikal ). Vakuol mulai terlihat di dalam korteks. Katarak sub kapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan dan korteks berisi jaringan degenerative(benda morgagni)pada katarak insipient kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama.
(Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
2.      Stadium imatur. Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi tidak atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jernih pada lensa. Pada stadium ini terjadi hidrasi kortek yang mengakibatkan lensa menjadi bertambah cembung. Pencembungan lensa akan mmberikan perubahan indeks refraksi dimana mata akan menjadi mioptik. Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris kedepan sehingga bilik mata depan akan lebih sempit.( (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
3.      Stadium matur. Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama-sama hasil desintegrasi melalui kapsul. Didalam stadium ini lensa akan berukuran normal. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata depan akan mempunyai kedalaman normal kembali. Kadang pada stadium ini terlihat lensa berwarna sangat putih akibatperkapuran menyeluruh karena deposit kalsium ( Ca ). Bila dilakukan uji bayangan iris akan terlihat negatif.( Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)  
4.      Stadium hipermatur. Katarak yang terjadi akibatkorteks yang mencair sehingga masa lensa ini dapat keluar melalui kapsul. Akibat pencairan korteks ini maka nukleus "tenggelam" kearah bawah (jam 6)(katarak morgagni). Lensa akan mengeriput. Akibat masa lensa yang keluar kedalam bilik mata depan maka dapat timbul penyulit berupa uveitis fakotoksik atau galukoma fakolitik (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
5.      Katarak Intumesen. Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa degenerative yang menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa disertai pembengkakan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penyulit glaucoma. Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan miopi lentikularis. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang meberikan miopisasi. Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa. (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
6.      Katarak Brunesen. Katarak yang berwarna coklat sampai hitam (katarak nigra) terutama pada lensa, juga dapat terjadi pada katarak pasien diabetes militus dan miopia tinggi. Sering tajam penglihatan lebih baik dari dugaan sebelumnya dan biasanya ini terdapat pada orang berusia lebih dari 65 tahun yang belum memperlihatkan adanya katarak kortikal posterior. (Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)
                        Tabel 1.1 Perbedaan karakteristik Katarak (Ilyas, 2001)

Insipien
Imatur
Matur
Hipermatur
Kekeruhan
Ringan
Sebagian
Seluruh
Masif
Cairan Lensa
Normal
Bertambah
Normal
Berkurang
Iris
Normal
Terdorong
Normal
Tremulans
Bilik mata depan
Normal
Dangkal
Normal
Dalam
Sudut bilik mata
Normal
Sempit
Normal
Terbuka
Shadow test
(-)
(+)
(-)
+/-
Visus
(+)
< 
<< 
<<< 
Penyulit
(-)
Glaukoma
(-)
Uveitis+glaukoma

Klasifikasi katarak berdasarkan lokasi terjadinya:
1.)        Katarak Inti ( Nuclear )
Merupakan yang paling banyak terjadi. Lokasinya terletak pada nukleus atau bagian tengah dari lensa. Biasanya karena proses penuaan.
2.)        Katarak Kortikal
Katarak kortikal ini biasanya terjadi pada korteks. Mulai dengan kekeruhan putih mulai dari tepi lensa dan berjalan ketengah sehingga mengganggu penglihatan. Banyak pada penderita DM
3.)        Katarak Subkapsular.
Mulai dengan kekeruhan kecil dibawah kapsul lensa, tepat pada lajur jalan sinar masuk. DM, renitis pigmentosa dan pemakaian kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama dapat mencetuskan kelainan ini. Biasanya dapat terlihat pada kedua mata.
2.2         Etiologi
Berbagai macam hal yang dapat mencetuskan katarak antara lain (Corwin,2000):
1.      Usia lanjut dan proses penuaan
2.      Congenital atau bisa diturunkan.
3.      Pembentukan katarak dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok atau bahan beracun lainnya.  
4.      Katarak bisa disebabkan oleh cedera mata, penyakit metabolik (misalnya diabetes) dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).  
Katarak juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain, seperti:
1.      Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat trauma/cedera pada mata.
2.      Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti: penyakit/gangguan metabolisme, proses peradangan pada mata, atau diabetes melitus.
3.      Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.
4.      Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka panjang, seperti kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.
5.      Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik (Admin,2009).
2.3         Patofisiolgi
Metabolisme Lensa Normal
Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan kation (sodium dan kalium). Kedua kation berasal dari humour aqueous dan vitreous. Kadar kalium di bagian anterior lensa lebih tinggi di bandingkan posterior. Dan kadar natrium di bagian posterior lebih besar. Ion K bergerak ke bagian posterior dan keluar ke aqueous humour, dari luar Ion Na masuk secara difusi dan bergerak ke bagian anterior untuk menggantikan ion K dan keluar melalui pompa aktif Na-K ATPase, sedangkan kadar kalsium tetap dipertahankan di dalam oleh Ca-ATPase Metabolisme lensa melalui glikolsis anaerob (95%) dan HMP-shunt (5%). Jalur HMP shunt menghasilkan NADPH untuk biosintesis asam lemak dan ribose, juga untuk aktivitas glutation reduktase dan aldose reduktase. Aldose reduktse adalah enzim yang merubah glukosa menjadi sorbitol, dan sorbitol dirubah menjadi fructose oleh enzim sorbitol dehidrogenase. 
Lensa mengandung 65% air, 35% protein dan sisanya adalah mineral. Dengan bertambahnya usia, ukuran dan densitasnya bertambah. Penambahan densitas ini akibat kompresi sentral pada kompresi sentral yang menua. Serat lensa yang baru dihasilkan di korteks, serat yang tua ditekan ke arah sentral. Kekeruhan dapat terjadi pada beberapa bagian lensa.
Kekeruhan sel selaput lensa yang terlalu lama menyebabkan kehilangan kejernihan secara progresif, yang dapat menimbulkan nyeri hebat dan sering terjadi pada kedua mata.
2.4         Manifestasi Klinis
Gejala subjektif dari pasien dengan katarak antara lain:
1)      Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi.
2)      menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari
Gejala objektif biasanya meliputi:
1)      Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau redup.
2)      Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih. Pengelihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih.
3)      Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih ,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif.
Gejala umum gangguan katarak meliputi: 
1)      Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
2)      Gangguan penglihatan bisa berupa:
  1. Peka terhadap sinar atau cahaya.
  2. Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).
  3. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
  4. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
3)      Kesulitan melihat pada malam hari
4)      Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mata
5)      Penurunan ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari )
Gejala lainya adalah :
1)      Sering berganti kaca mata
2)      Penglihatan sering pada salah satu mata.
3)      Kadang katarak menyebabkan pembengkakan lensa dan peningkatan tekanan di dalam mata ( glukoma ) yang bisa menimbulkan rasa nyeri. 
2.5         Penatalaksanaan
Gejala-gejala yang timbul pada katarak yang masih ringan dapat  dibantu dengan menggunakan kacamata, lensa pembesar, cahaya yang lebih terang, atau kacamata yang dapat meredamkan cahaya. Pada tahap ini tidak diperlukan tindakan operasi.
Tindakan operasi katarak merupakan cara yang efektif untuk memperbaiki lensa mata,  tetapi tidak semua kasus katarak memerlukan tindakan operasi. Operasi katarak perlu dilakukan jika kekeruhan lensa menyebabkan penurunan tajam pengelihatan sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari. Operasi katarak dapat dipertimbangkan untuk dilakukan jika katarak terjadi berbarengan dengan penyakit mata lainnya, seperti uveitis yakni adalah peradangan pada uvea. Uvea (disebut juga saluran uvea) terdiri dari 3 struktur:
1.      Iris : cincin berwarna yang melingkari pupil yang berwarna hitam
2.      Badan silier : otot-otot yang membuat lensa menjadi lebih tebal sehingga mata bisa fokus pada objek dekat dan lensa menjadi lebih tipis sehingga mata bisa fokus pada objek jauh
3.      Koroid : lapisan mata bagian dalam yang membentang dari ujung otot silier ke saraf optikus di bagian belakang mata.
Sebagian atau seluruh uvea bisa mengalami peradangan. Peradangan yang terbatas pada iris disebut iritis, jika terbatas pada koroid disebut koroiditis.
Juga operasi katarak akan dilakukan bila berbarengan dengan glaukoma, dan retinopati diabetikum. Selain itu jika hasil yang didapat setelah operasi jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan risiko operasi yang mungkin terjadi. Pembedahan lensa dengan katarak dilakukan bila mengganggu kehidupan social atau atas indikasi medis lainnya.( Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)
Indikasi dilakukannya operasi katarak :
1.      Indikasi sosial: jika pasien mengeluh adanya gangguan penglihatan dalam melakukan rutinitas pekerjaan
2.      Indikasi medis: bila ada komplikasi seperti glaucoma
3.      Indikasi optik: jika dari hasil pemeriksaan visus dengan hitung jari dari jarak 3 m didapatkan hasil visus 3/60
Ada beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan, yaitu:
1.      ICCE ( Intra Capsular Cataract Extraction)
yaitu dengan mengangkat semua lensa termasuk kapsulnya. Sampai akhir tahun 1960 hanya itulah teknik operasi yg tersedia.
2.      ECCE (Ekstra Capsular Cataract Extraction) terdiri dari 2 macam yakni
1.       Standar ECCE atau planned ECCE dilakukan dengan mengeluarkan lensa secara manual setelah membuka kapsul lensa. Tentu saja dibutuhkan sayatan yang lebar sehingga penyembuhan lebih lama.
2.       Fekoemulsifikasi (Phaco Emulsification). Bentuk ECCE yang terbaru dimana menggunakan getaran ultrasonic untuk menghancurkan nucleus sehingga material nucleus dan kortek dapat diaspirasi melalui insisi ± 3 mm. Operasi katarak ini dijalankan dengan cukup dengan bius lokal atau menggunakan tetes mata anti nyeri pada kornea (selaput bening mata), dan bahkan tanpa menjalani rawat inap. Sayatan sangat minimal, sekitar 2,7 mm.  Lensa mata yang keruh dihancurkan (Emulsifikasi) kemudian disedot (fakum) dan diganti dengan lensa buatan yang telah diukur kekuatan lensanya dan ditanam secara permanen. Teknik bedah katarak dengan sayatan kecil ini hanya memerlukan waktu 10 menit disertai waktu pemulihan yang lebih cepat.
Pascaoperasi pasien diberikan tetes mata steroid dan antibiotik jangka pendek. Kacamata baru dapat diresepkan setelah beberapa minggu, ketika bekas insisi telah sembuh. Rehabilitasi visual dan peresepan kacamata baru dapat dilakukan lebih cepat dengan metode fakoemulsifikasi. Karena pasien tidak dapat berakomodasi maka pasien akan membutuhkan kacamata untuk pekerjaan jarak dekat meski tidak dibutuhkan kacamata untuk jarak jauh. Saat ini digunakan lensa intraokular multifokal. Lensa intraokular yang dapat berakomodasi sedang dalam tahap pengembangan
Apabila tidak terjadi gangguan pada kornea, retina, saraf mata atau masalah mata lainnya, tingkat keberhasilan dari operasi katarak cukup tinggi, yaitu mencapai 95%, dan kasus komplikasi saat maupun pasca operasi juga sangat jarang terjadi. Kapsul/selaput dimana lensa intra okular terpasang pada mata orang yang pernah menjalani operasi katarak dapat menjadi keruh. Untuk itu perlu terapi laser untuk membuka kapsul yang keruh tersebut agar penglihatan dapat kembali menjadi jelas.













2.6         Penyimpangan KDM
( Etiologi )
Faktor keturunan, Pertambahan usia, radiasi dll, Perubahan fisik kimia pada lensa, Kepadatan lensa hilang transparan. Kimia dan protein dilensa berubah
Penuruna enzim ALDOS reduktase
   Protein terputus
  Inveksi air kedalam
Ganguan S. Organ Indra              Mematahkan serabut lensa
Resiko Cedera
 
         Menggangu transisi sinar
      Penurunan tajam penglihatan           Post pembedahan
  G. penerimaan sensoripenglihatan   Peubahan S. kesehatan
Ansietas
 
            Prosedur pembedahan
   Terputusnya kontinitas jaringan
Gangguan rasa nyaman
 
                                                           






BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1         Pengkajian
1.      Identitas / Data demografi
Berisi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan yang sering terpapar sinar matahari secara langsung, tempat tinggal sebagai gambaran kondisi lingkungan dan keluarga,  dan keterangan lain mengenai identitas pasien.
2.      Riwayat Pola Persepsi Kesehatan dan Manajemen Kesehatan
Klien mengalami bahwa ketajaman penglihatannya menurun, silau dan sering menabrak perabotan dan benda di sekitar rumah pada malam hari. Selain itu klien juga merasa bahwa pandangannya kabur dan tidak melihat perbedaan tinggi lantai.
3.      Pola Nutrisi Metabolik
Kaji bagaimana pola nutrisi klien, makanan dan cairan apa yang disukai klien ataupun pantangan klien. Apakah klien merasa mual atau muntah. Dan bagaimana klien dengan pola nutrisinya sewaktu sebelum sakit dan sekarang.
4.      Pola Eliminasi-Defekasi
Kaji bagaimana pola eliminasi dan defekasi klien. Tanyakan bagaimana warna, jumlah, bau, konsistensi eliminasi dan defekasi klien. Apakah mengalami perubahan karena penyakit yanh diderita klien atau tidak. Apakah klien mengalami diare atau wasir.
5.      Pola Aktivitas dan Latihan
Klien mengatakan bahwa ketajaman penglihatannya menurun, silau dan sering menabrak perabotan dan benda di sekitar rumah pada malam hari. Selain itu klien juga merasa bahwa pandangannya kabur dan tidak melihat perbedaan tinggi lantai.
Kaji bagaimana pola aktivitas dan latihan klien, apakah mengalami gangguan atau tidak. Kaji apakah klien dapat melakukan aktivitasnya sendiri atau dibantu keluarga.



6.      Pola Tidur dan Istirahat
Kaji bagaimana pola istirahat dan tidur klien selama sakit dan bandingkan dengan pola tidur klien sebelum sakit, apakah terjadi perubahan atau tidak. Kaji kepuasan klien terhadap istirahat dan tidur klien tersebut.
7.      Pola  Kognitif-perseptual
Klien mengalami penurunan ketajaman penglihatan, klien sering merasa silau dalam melihat sesuatu hal dan mengakibatkan klien sering menabrak perabotan dan benda disekitar rumah pada malam hari. Klien juga mengatakan bahwa penglihatannya kabur dan susah melihat perbedaan tinggi lantai.
8.      Pola Persepsi Konsep Diri
Klien mengalami kecemasan setelah berkonsultasi dengan dokter. Klien mengatakan bahwa dia mendengar bahwa proses pengobatan yang disarankan dokter terjadi juga pada tetangga klien dan hasilnya matanya semakin mengalami keparahan.
9.      Pola Peran dan Hubungan
Kaji bagaimana peran klien dalam keluarga dan lingkungannya. Dan kaji bagaimana hubungan klien dengan anggota keluarga dan lingkungan disekitar temapat tinggal klien tersebut.
Pola Seksualitas dan Reproduksi
Biasanya terjadi penurunan seksualitas karena kondisi klien yang lemah dan nyeri yang dirasakan.
10.  Pola Koping dan Toleransi Stress
Kaji bagaimana klien menghadapi stres yang dialaminya dan siapa saja yang biasa membantu klien dalam menghadapi stres yang klien rasakan.
11.  Pola Nilai dan Kepercayaan
Biasanya aktivitas ibadah klien terganggu karena keterbatasan aktivtas.
3.2         Diagnosa keperawatan
1.      Gangguan rasa nyaman ( 00214 ) berhubungan dengan peningkatan tekanan intra okuler ( TIO )
2.      Resiko cidera ( 00053 ) berhubungan dengan peningkatan TIO, perdarahan intraokuler.
3.      Ansietas ( 000145 ) berhubungan dengan perasaan tidak nyaman atau rasa khawatir respon autonom.
3.3         Rencana tindakan
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan /Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional

1.
(598)

Gangguan rasa nyaman 
 ( 00214 ) berhubungan dengan peningkatan tekanan intra okuler ( TIO )
Definisi : Merasa kurang senang, lega, dan sempurna dalam segala dimensi fisik, fisikospiritual, lingkunagan dan sosial.
Ditandai dengan batasan karakteristik:
DS :
o    Klien mengatakan  susah tidur pada siang an malam hari
o    Klien merasa kurang puas dengan keadaannya saat ini
o    Adanya rasa nyeri
DO :
o    Klien nampak gelisah
o    Klien nampak meringis


Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan rasa nyeri berkurang, dengan kriteria hasil :
o  Klien terlihat rileks
o  Klien mengatakan nyeri berkurang/hilan
o  Skala nyeri 0-1


1.       Kaji derajat nyeri setiap hari.
2.       Anjurkan klien untuk tidak melakukan gerakan tiba-tiba yang dapat memprovokasi nyeri.
3.       Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.
4.       Berikan pendidikan kesehatan mengenai hal-hal yang dapat mengurangi bertambahnya nyeri akibat meningkatnya TIO seperti tidak membungkuk terlalu dalam  (anjurkan pasien melakukan ibadah salat dalam posisi duduk) dan tidur berbaring ke arah mata yang sehat.
5.       Lakukan tindakan kolaboratif untuk pemberian analgesic topical atau sistemik.


1.       Untuk mengetahui skala nyeri pada klien.
2.       Agar nyeri tidak mudah timbul.




3.       Untuk mengurangi rasa nyeri.

4.       Agar klien dapat mengontrol dan mengetahui hal-hal yang dapat menimbilkan nyeri.













5.       Agar rasa nyeri berkurang, dan masalah klien tdapat teratasi.

2.        
(547)

Resiko cidera ( 00053 ) berhubungan dengan peningkatan TIO, perdarahan intraokuler.
Definisi :
Beresiko mengalami cedera sebagai akibat kondisi lingkungan  yang berinteraksi dengan sumber adaktif dan sumber definsit individu.
Ditandai dengan batasan karakteristik:
DS :

DO :


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam , diharapkan tidak terjadi cedera ditandai dengan kriteria hasil :
o   Klien dapat menyebutkan faktor yang menyebabkan cedera.
o   Klien tidak melakukan aktivitas yang meningkatkan resiko cedera.

1.       Diskusikan tentang rasa sakit, pembatasan aktifitas dan pembalutan mata.
2.       Tempatkan klien pada tempat tidur yang rendah dan ajurkan untuk membatasi pergerakan mendadak atau tiba-tiba serta menggerakan kepala berlebih.
3.       Bantu aktifitas selama fase istirahat.


4.       Ajarkan klien untuk menghindari tindakan yang dapat menyebabkan cedera.
5.       Berikan pendidikan kesehatan mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan pasca pembedahan.
6.       Amati kondisi mata : luka menonjol, bilik mata depan menonjol, nyeri mendadak setiap 6 jam pada awal operasi atau seperlunya.


1.       Batasi aktifitas klien agar resiko cedera dapat berkurang.


2.       Agar resiko berkurang.








3.       Agar klien dapat beraktifitas/istirahat tanpa takit terjadinya cedera

4.       Agar klien tidak beresiko cedera




5.       Agar klien dapat mengetahui hal-hal yang dapat memicu terjadinya cedera.




6.       Agar kondisi klien dapat terkontrol.


3.
(445)

Ansietas ( 000145 ) berhubungan dengan perasaan tidak nyaman atau rasa khawatir terhadap penyakit
Definisi :
Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respon autonom ( Sumber tidak kali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu ): perasaan takut yang disebabkan oleh anstipasi terhadap bahaya.hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang memperingatkan individu akan segala bahaya dan memampukan  individu atau bertindak menghadapi ancaman
Ditandai dengan batasan karakteristik:
DS :
o    Klien mengatakan cemas akan  penyakit yang diderita
o    Klien mengatakan merasa takut
o    Klin mengatakan khawatir karena perubahan dalam peristiwa hidup
DO :
o    Klien nampak gelisah
o    Klien nampak stres


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 3x24 jam , diharapkan kecemasan klien berkurang . dengan kriteria hasil :
o   Klien nampak tenang.
o   Klien tidak merasa gelisah.

1.       Gunakan pendekatan yang menenangkan
2.       Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien.
3.       Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut.
4.       Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosi
5.       Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi     
6.       Barikan obat untuk mengurangi kecemasan.
oAntihistamin:
Diphenhydramine



1.       Agar klien merasa tenang.


2.       Untuk mengetahui harapan klien kedepannya.


3.       Agar rasa cemas/takut klien dapat berkurang.



4.       Agar klien dapat mengetahui tindakan diagnosa yang akan dilakukan.



5.       Untuk mengurangi kecemasan dan memberikan ras nyaman.


6.       Agar klien dapat merasa lebih tenang

3.4         Implamentasi
Implementasi disesuaikan dengan intervensi pada rencana intervensi
3.5         Evaluasi
3.5.1          Klien merasa nyaman
3.5.2          Resiko cidera berkurang/ dapat diatasi
3.5.3          Ansietas klien dapat terkontrol/berkurang





BAB  IV
PENUTUP
4.1         Kesimpulan
Katarak merupakan kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, sehingga menyebabkan penurunan/gangguan penglihatan (Admin,2009).
Katarak menyebabkan penglihatan  menjadi berkabut/buram. Katarak merupakan keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa, sehingga pandangan seperti tertutup air terjun atau kabut merupakan penurunan progresif kejernihan lensa, sehingga ketajaman penglihatan berkurang (Corwin, 2000).
Definisi lain katarak adalah suatu keadaan patologik lensa di mana lensa rnenjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu (Iwan,2009)
4.2         Saran
Sebagai perawat diharapkan mampu untuk  melakukan asuhan keperawatan terhadap penderita Katarak . Perawat juga harus mampu berperan sebagai pendidik. Dalam hal ini melakukan penyuluhan mengenai pentingnya  hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit katarak dan memperberat penyakit bagi yang sudah menderita, serta hal-hal yang harus dihindarkan dan bagaimana cara pengobatan dengan baik pada penderita.












DAFTAR PUSTAKA
NANDA 2012-2014. Diagnosis keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Judithy M. Wilkinson. Nancy R. Ahern (2011). Buku saku keperawatan. Diagnosa NANDA, Intervensi NIC. Kriteria hasil NOC. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Doenges marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta